close
Breaking news

Biar hidup makin sehat, Jualo.com siapkan rekomendasi sepatu murah dibawah 500 ...read more Kebutuhan masker virus Corona sedang meningkat di banyak negara di kawasan Asia...read more

WR Supratman dan Sejarah Lagu Indonesia Raya

Indonesia Raya, sebuah lagu kebangsaan yang jadi kebanggaan bangsa Indonesia dan selalu dikumandangkan di Hari Kemerdekaan 17 Agustus dengan penuh khidmat.

Lirik lagu Indonesia Raya ditulis oleh komposer sekaligus wartawan Wage Rudolf Supratman. Instrumental lagu tersebut pertama kali dibawakan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, yang kelak dikenal sebagai cikal bakal Hari Sumpah Pemuda.

Mulanya, WR Supratman adalah wartawan koran Sin Po yang ditugaskan untuk meliput Kongres Pemuda II. Namun, kala itu keinginannya tidak hanya sekadar menulis berita, tetapi juga ingin membawakan lagu “Indonesia Raya”. Atas inisiatifnya sendiri, ia menyebarkan salinan lagu itu kepada para pimpinan organisasi pemuda.

Gayung pun bersambut. Lagu Indonesia Raya mendapat sambutan hangat. Sugondo, yang waktu itu memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua, awalnya mengizinkan Supratman membawakan lagu tersebut pada jam istirahat. Namun, ketika Sugondo membaca lebih teliti lirik lagu tersebut, ia menjadi ragu.

5 Tips Membeli Mobil Bekas Versi Jualo

Lima Rekomendasi Sepatu Olahraga Murah di Bawah Rp500 Ribu

Ia takut pemerintah memboikot acara Kongres. Akhirnya Sugondo meminta Supratman membawakan lagu tersebut dengan instrumen biola saja. Ketika jam istirahat tiba, Supratman maju, membawakan lagu ‘Indonesia Raya’ versi instumental. Semua peserta kongres tercengang. Mereka terharu mendengar gesekan biolanya. Itulah kali pertama lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang. Setelahnya, lagu Indonesia Raya kembali berkumandang di akhir bulan Desember 1928 saat pembubaran panitia kongres kedua.

Teror dan Ancaman Hampiri WR Supratman

Ilustrasi ketika WR Supratman memainkan Indonesia Raya dengan biola pada Kongres Pemuda II di tahun 1928

Para peserta berdiri dan bernyanyi mengikuti iringan biola Supratman sebagai tanda penghormatan kepada Indonesia Raya. Di tengah kepopuleran Indonesia Raya, pihak Belanda kian resah. Mereka takut jika lagu tersebut mampu membangkitkan semangat kemerdekaan. Karena itu, pada 1930, lagu itu dilarang dan tak boleh dinyanyikan dalam kesempatan apa pun, Alasan pemerintah kolonial: lagu tersebut dapat “mengganggu ketertiban dan keamanan.”

Selaku pencipta, Supratman tak luput dari ancaman. Ia sempat ditahan dan diinterogasi soal maksud lirik “merdeka, merdeka, merdeka”. Tetapi kekangan itu cuma sebentar. Setelah diprotes dari berbagai kalangan, pemerintah Hindia Belanda mencabutnya dengan syarat hanya boleh dinyanyikan di ruang tertutup.

–>Tips Perawatan Lampu Mobil yang Simpel

17 Agustus 1945 Indonesia Raya Bebas Berkumandang

Sampai pada akhirnya, 17 Agustus 1938, Supratman tutup usia setelah jatuh sakit. Jenazahnya dimakamkan di Kuburan Umum di Jalan Kejeran Surabaya. Supratman telah tiada. Tapi fobia terhadap lagu ‘Indonesia Raya’ tak kunjung reda. Maka, ketika Jepang menduduki kawasan Hindia Belanda pada Maret 1942, lagu tersebut kembali dilarang. Lagu itu baru bebas dicekal di ambang kejatuhan pendudukan Jepang pada medio 1945. Lagu ‘Indonesia Raya’ kembali bergema setelah Sukarno membacakan teks Proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Hasilnya adalah Peraturan Pemerintah RI tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada 26 Juni 1958. Peraturan yang berisikan 6 bab ini mengatur tata tertib dalam penggunaan lagu ‘Indonesia Raya’ dilengkapi pasal-pasal penjelasan.

Momen saat Bung Karno membacakan Teks Proklamasi, 17 Agustus 1945

Tentang penting dan nilai luhur ‘Indonesia Raya’, Presiden Sukarno pernah mengatakan:  “Setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu Indonesia Raya yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu perjuangan, tetapi menjadi lagu kebangsaan. Bukan saja lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita. Permintaan batin kita ialah Allah SWT. Menjadikan lagu Indonesia menjadi lagu Kebangsaan, lagu bangsa kita sampai akhir zaman pula. Jangan ada sesuatu golongan memilih lagu baru, setialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila.”

Yang sangat menarik, secara musikal lagu Indonesia Raya justru diaransemen oleh orang Belanda bernama Jos Cleber yang penyempurnaan dilakukan setelah menerima masukan dari Presiden Soekarno kala itu. Dan tepat pada kerusuhan Mei 1998, Jos Cleber kembali merekam kembali secara digital di Australia bersama Victoria Philharmonic Orchestra di bawah konduktor Addie Muljadi Sumaatmadja yang diletakkan pada debut album pertama oleh Simfoni Negeriku berdurasi 1 menit 47 detik.

–> Temukan berbagai produk yang Anda inginkan saat ini di Jualo.com secara GRATIS

Tag: , , , , , , , ,

Story Page
Facebook
Instagram